20 Mei, Kebangkitan Nasional dan Kepedulian Bangsa
20 Mei, Kebangkitan Nasional dan Kepedulian Bangsa. Tanggal 20 Mei sudah kita kenal dengan Hari Kebangkitan Bangsa.
Dokter Wahidin Sudirohusodo, pengagas berdirinya Utomo dikenal sebagai dokter yang memiliki kepedulian kepada masyarakat, terutama masyarakat tidak mampu. Ia sering mengobati masyarakat tidak mampu tanpa mengenakan biaya. Ia juga mengusulkan pemberian beasiswa bagi pelajar tidak mampu yang memiliki kecerdasan.
Meskipun tidak menjadi pendiri maupun pengurus Budi Utomo, dr Wahidin telah menjadi peletak kebangkitan nasional. Bangkit dari ketertindasan, keterjajahan, kebodohan, dan kemiskinan yang pada waktu itu tengah dirasakan oleh rakyat pada masa itu.
Dokter Wahidin telah menjadi teladan dengan peduli kepada rakyat melalui pengobatan gratis dan pengusulan pemberian beasiswa. Inilah yang dibutuhkan oleh rakyat pada hari ini, kepedulian akan ketidakmampuan akibat ”penjajahan”. Penjajahan pada masa itu tentu berbeda konteksnya dengan penjajahan saat ini.
Saat ini, penjajahan itu bersumber dari perilaku individualisme. Dengan berkembangnya budaya neoliberalisme yang mengedepankan individualisme dan uang, kondisi sosial masyarakat mengalami perubahan. Menyelamatkan nyawa tanpa ketersediaan uang adalah hal yang mustahil saat ini. Uang harus tersedia jika ingin nyawa selamat.
Ketika kondisi yang tidak kondusif bagi kemanusiaan kita ini semakin menjalar ke bebagai tempat, maka obatnya adalah dengan memperbaiki diri, lalu memperbaiki keluarga bagi yang sudah berkeluarga dan kemudian memperbaiki masyarakat. Tidak mungkin bisa memperbaiki orang lain tanpa memperbaiki diri dahulu.
Cita-cita kebangkitan nasional adalah sejalan dengan semangat Proklamasi dan juga UUD 1945 yang dilahirkan pada saat itu. UUD 1945 pada saat dilahirkan sarat dengan nilai agama, kepedulian, kebersamaan dan pemerataan. Hal ini dikarenakan para pembuatnya merasakan langsung pahitnya dijajah, diambil hasil buminya oleh penjajah dan kepahitan lainnya.
Namun, saat ini seolah-olah semangat kepedulian dan pemerataan itu hilang. Yang muncul ke permukaan justru individualisme di segala level tingkat pendapatan masyarakat. Namun demikian, usaha memperbaiki kondisi selalu dilakukan oleh orang-orang yang sadar akan bahaya yang mengancam.
Kebangkitan nasional yang telah dialami masyarakat jazirah Arab di zaman Rasulullah SAW merupakan inspirasi bagi kita agar kembali mendalami ajaran agama dan sekaligus menunjukkan kepedulian kepada sesama, terutama kaum dhuafa.
Kebangkitan nasional akan bermakna ketika tersedia sumber daya manusia yang mampu membawa perubahan ke arah lebih baik dengan menjunjung nilai-nilai universal dan menunjukkan keteladanan sehingga terbentuk budaya organisasi yang menstimulus masyarakat untuk bekerja dengan baik.
Semoga bermanfaat.
Referensi : padangekspres.co.id
Salam,
Muliardy Banun
Sphere: Related Content




















wah bgs bngt infonya sukses selalu ya pak,dan trima kasih bnyak.
1wiiis keren juga tuh , mari kita bangkitkan lagi gan indonesianya, makasih banyak buat infonya
2kita harus mencontoh ,smangat para pejuang kita yg terdahulu.
3mari kita majukan bangsa ini dgn kesuksesan.
wow..
4info yang sangat bergunaa..
salam sukses selalu…
Sayangnya di jaman skrg ini sangat sdkit yg punya rasa nasionalisme… hufhh.. Indonesiaku sayang
5mari kita contoh para pejuang jaman dahulu, supaya indonesiua terus tegar, makasih atas infonya
6lapor gan!!
7banner agan sudah terpampang indah di blog saya., moho di tinjau
terima kasih
tetap berkarya gan
selmt memperingati hari kebangkitan nasional…tokoh2 pejuang jaman sebelum kemerdekaan harus kita kenang….
8