Sekilas Tentang Radikalisme
Sekilas Tentang Radikalisme. Sejak meledaknya bom di Mapolresta Cirebon dan ditemukan beberapa bom disepanjang jalur pipa gas Serpong, muncul berbagai pembicaraan diberbagai media Tentang Radikalisme.
Radikalisme adalah sebuah kelompok atau gerakan politik yang kendur dengan tujuan mencapai kemerdekaan atau pembaruan sektoral yang mencakup mereka yang berusaha mencapai republikanisme, penghapusan gelar, redistribusi hak milik dan kebebasan pers, dan dihubungkan dengan perkembangan liberalisme. (id.wikipedia.org)
Munculnya berbagai pembicaraan Tentang Radikalisme ini dikarenakan berdasarkan penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan Polri didapat mereka yang diduga terlibat berbagai rencana pengeboman adalah orang-orang terpelajar seperti mahasiswa, guru agama, dan lulusan perguruan tinggi.
Pengamat Terorisme dari Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Sidoarjo, Prof. Dr. Ahmad Zainuri mengemukakan radikalisme dalam bentuk teror di Indonesia tidak akan mati, kendati gembongnya telah mati. “Aksi-aksi terorisme tidak akan berhenti, karena ada beberapa syarat yang mendukungnya,” katanya di Surabaya, Senin [10/08] . (beritasore.com)
Rektor Unmuh Sidoarjo itu menyebutkan, tumbuhnya radikalisme itu dipicu oleh tiga syarat, yakni ketidakadilan, eksploitasi represif, dan fitnah. Menurut dia, munculnya aksi-aksi terorisme di Indonesia itu karena dipicu oleh ketidakadilan ekonomi. Ia mengatakan, kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan, pelaku terorisme itu sudah sangat memprihatinkan.
Oleh sebab itu, menurut dia, orang-orang berlatar belakang sosial ekonomi seperti itu mudah dipengaruhi dan diindoktrinasi oleh orang semacam Noordin M. Top. “Daripada hidup susah, mereka memilih mati. Apalagi, dapat gelar sebagai martir. Tentu akan membanggakan bagi mereka,” kata Zainuri.
Ia berkesimpulan, selama ketidakadilan dan kemiskinan itu tumbuh berkembang di Indonesia, maka gerakan radikalisme dalam bentuk teror akan selalu ada. Meskipun demikian, dia menduga ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan aksi-aksi terorisme di Indonesia selama ini. Saya tidak bisa menyebutkan, siapa pihak yang diuntungkan itu. Akan tetapi, dalam sejarah terorisme hal itu selalu ada, katanya.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menyerukan agar semua pihak melawan gerakan itu. “Kita lawan dengan menjelaskan ajaran yang benar. Tugas kita untuk menjelaskan soal ahklak dan pengetahuan yang benar,” kata Jusuf Kalla usai menyaksikan teater Visual Art I La Galigo di Benteng Fort Rotterdam Makasar, Sulawesi Selatan, Sabtu ( 23/4/2011) malam.
Jusuf Kalla menilai, upaya cuci otak jelas bertentangan dengan norma dan ajaran Islam. Karenanya, peran pemuka agama dan pemerintah untuk mengoptimalkan counter isu dengan memberikan pelajaran akidah dan pendalaman ajaran Islam yang anti radikal. Ia berpendapat, setiap orang sah-sah saja saja berpikiran ekstrim asalkan tidak diwujudkan dalam tindakan salah yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Salam,
Muliardy Banun
Sphere: Related Content




















tapi meskipun begitu kita berdoa saja supaya para terorisme cepat insyap dan yang sudah terjadi semoga di tangani oleh aparat kepolisian, makasih atas infonya
1salam kenal aj gan,,,,,,,,,n makasieh infonya,,,,
2memang benar….bahasan yang sangat bagus……….
3faktor ekonomi hal yang palling fatal……………..
salam kenal .
4nice share .
terima kasih buat infonya, memang akibat ekonomi yang selalu biukin masyarakat jadi beginih
5lam kenal,,,,,terima kasih atas segala informasinya,akurat dan terpercaya…
6nice share ,, lam kenal yaaaa
7gerakan radikal wah,serem…
8kalau yang memimpin adil dan bisa mensejahterakan rakyatnya,keamanan dan radikalisme saya yakin bakal berkurang dan tidak ada karena semua akan tumbuh rasa cinta diantara sesama umat dan rakyatnya rterhadap pemerintah
9